Makin Maraknya Konten-konten tidak Senonoh di Youtube yang ditujukan pada Anak-anak

Maraknya Konten tidak senonoh di Youtube yang ditujukan untuk anak

jetemarket.com Google memang telah menyatakan bahwa Youtube menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk melindungi anak, tapi faktanya algoritma kecerdasan buatan itu terlalu mudah dikelabui. Faktanya, konten tidak Senonoh di Youtube  yang masuk dalam kategori untuk anak justru makin marak. Anomali ini kemudian dikenal dengan sebutan ‘Elsagate’ (untuk mengingatkan Elsa adalah karakter dalam film Disney).

Baca Juga : Cara Atasi Kecanduan Youtube

Semakin pesatnya jumlah anak-anak pengguna YouTube, membuat channel video anak adalah lahan monetisasi yang menjanjian. Sayang, banyak diantara channel-channel itu menyajikan konten-konten tidak senonoh yang ditujukan kepada anak.

Diduga aktor-aktor di balik kemunculan video ‘Elsagate’ berasal dari berbagai negara dengan motif berbeda-beda, tapi tetap saja bakalan merusak si anak.

Kamu pasti pernah melihat tayangan video animasi atau live-action di YouTube yang menampilkan karakter-karakter yang dekat dengan dunia anak-anak seperti mickey mouse, elsa, spiderman, dll tapi menampilkan sajian vulgar, penuh kekerasan, bahkan seksualitas.

Tren Video tidak senonoh ini sempat menuai kontroversi sejak James Bridle penulis di New York Times mengulasnya sekitar November 2017 lalu.

Bahkan melalui pengaturan tertentu pada judul dan gambar thumbnail, video-video tersebut terkesan sudah didesain untuk memperdayai algoritma penyaringan dan rekomendasi dari YouTube. Sehingga video-video itu bisa muncul di YouTube Kids.

Lalu istilah Elsagate pun muncul, diantaranya melalui media-media seperti Forbes dan The Verge. Sebutan itu merupakan gabungan nama karakter “Elsa” dari film Frozen serta kata ‘gate’ yang sangat populer digunakan untuk menamai sebuah skandal.

Lalu..? Mengapa YouTube bisa lalai? Apakah Youtube juga terlibat dalam penyebaran konten tidak senonoh itu? Jika tidak, langkah-langkah apa saja yang akan direncanakan oleh YouTube?

Bagaimana konten-konten tidak senonoh bisa menembus penyaringan YouTube?

Secara umum, YouTube tidak benar-benar memiliki kecerdasan buatan, kalaupun AI tersebut dibuat, dia tidaklah benar-benar cerdas, hanya mampu mengenali pola aktifitas pengguna saja. Hanya menyimpan database video-video yang pernah dilihat, lalu algoritma akan mengolahnya dan menyusun video-video sejenis untuk direkomendasikan dilihat oleh pengguna.

Youtube hanya mengenali kata-kata kunci saja, sehingga kata-kata kunci yang dekat dengan dunia anak, dianggap sebagai konten untuk anak (tidak peduli apakah konten tersebut baik/tidak untuk anak).

Terbukti video-video yang masuk dalam katagori elsagate hanya menampilkan judul-judul yang linier dengan dunia anak seperti “Elsa” atau “spiderman” atau “superheroes” atau “nursery rhymes” adalah kata-kata kunci pilihan yang biasa digunakan.

Kata kunci ini tidak hanya digunakan sebagai judul, tetapi juga diletakkan pada metadata lainnya seperti deskripsi dan tag video. Semakin banyak kata kunci yang disertakan, kesempatan video tersebut terselip diantara video-video anak akan semakin besar.

Selanjutnya, AI Youtube bekerja, algoritma akan mengangap video yang terselip itu sebagai bagian dari konten yang pantas untuk dilihat dan akan direkomendasikan oleh Youtube untuk kita lihat.

Siapa sih yang tega membuat dan mengunggah konten ini ke YouTube?

Sampai saat ini, Youtube belum mampu mengidentifikasi para pengunggah konten, dengan alasan semakin besarnya kuantitas channel bermasalah tersebut. Meski begitu, per November 2017 YouTube mengaku sudah mendata lebih dari 50.000 channel dengan muatan tidak senonoh yang dikhususkan untuk dikonsumsi anak-anak.

Adakah ciri-cirinya?

  • Menggunakan karakter populer dari film anak-anak, seperti tokoh-tokoh Disney, komik,  superhero, atau kartun anak-anak.
  • Menggunakan musik atau lagu anak-anak yang populer.
  • Memiliki jalan cerita yang tidak beraturan.
  • Sering ditemukan pose atau kegiatan berkesan pengalaman seksual.
  • Menampilkan tema yang disukai anak-anak, seperti kedokteran/medis dan kehamilan.
  • Menyisipkan adegan-adegan kekerasan fisik, penculikan atau tindak kriminal lainnya.

Mengapa Anak-anak dijadikan Target?

Anak-anak adalah segmen pengguna YouTube dengan traffic terbesar. Bahkan Channel yang ditujukan untuk anak-anak, yaitu Ryan ToysReview telah menjadi channel dengan jumlah view terbanyak ketiga didunia.

Kita memang sedang berada di era dimana anak-anak adalah lahan monetisasi terbaik. Sayangnya hanya dengan langkah kecil melakukan beberapa manipulasi SEO, sebuah channel youtube bernama Lyra Channel TV dengan video-video tak layak dikonsumsi oleh anak-anak telah berhasil mendapat lebih dari 118juta view.

Benar bahwa beberapa channel video itu sudah diciduk oleh Youtube melalui laporan para orangtua, tapi layaknya parasit, channel-channel ini tetap saja bermunculan.

Bagaimana Respons dari YouTube?

YouTube sudah menghapus 270+ akun dan 150+ ribu video yang dianggap membahayakan perkembangan anak-anak. Tapi Youtube masih memperbolehkan siapapun mengupload video semacam itu, karena Youtube memang belum memiliki kemampuan untuk filterisasi. Youtube hanya bisa memberikan fitur restriksi umur bagi sejumlah video yang menampilkan karakter kartun dalam adegan yang tidak layak dikonsumsi anak-anak. Sayangnya fitur ini juga harus di atur secara manual oleh Orangtua.

Lalu  video-video satir yang menggunakan karakter hiburan dalam dunia anak-anak serta menampilkan adegan kekerasan, adegan seksual, atau adegan tidak senonoh lainnya, sudah tidak dapat dimonetisasi lagi. YouTube sudah mencabut monetisasi lebih dari lima juta video yang melanggar.

Selajutnya Youtube menambah Moderator untuk melihat dan menghapus konten serta melatih AI untuk membuat keputusan kontekstual terhadap konten-konten yang beredar.

Hadirnya YouTube Kids merupakan tiupan angin segar

Youtube Kids terbaru sudah memungkinkan bagi orang tua untuk mengendalikan tayangan yang sesuai bagi anak. Youtube Kids menawarkan pilihan untuk hanya menampilkan konten-konten hasil seleksi moderator manusia yang telah diverifikasi. Nantinya kita para orangtua juga diberikan fitur untuk menyeleksi video secara manual. Sayangnya YouTube Kids belum tersedia di Indonesia.

Untuk saat ini, kita hanya bisa menggunakan Mode Terbatas agar Youtube hanya menampilkan konten-konten yang sesuai dengan restriksi umur demi menyaring konten. Hasil saringan video bersifat subjektif, sesuai dengan pandangan dan norma budaya pengguna.

Cara paling efektif untuk mencegahnya?

Pastikan anak-anak dalam pengawasan langsung saat mengonsumsi konten YouTube. Karena eksklusitifitas smartphone yang bisa di gunakan secara sembunyi-sembuni, dibandingkan dengan Televisi yang berada di ruang Tamu keluarga

Kita tunggu komitmen dari Youtube untuk memperbesar tim moderasi konten di Google.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kategori Produk